Bukan Lagi Kejar Jabatan? Gen Z Mulai Melirik Side Hustle
Kesuksesan karier dulu sering dikaitkan dengan kenaikan jabatan, posisi tinggi, dan job title. Namun, cara pandang tersebut mulai berubah.
Menurut Forbes (2026), 57% Gen Z memilih memiliki beberapa side hustle dibanding mengejar jabatan tinggi. Di tengah kondisi lapangan kerja yang terus berubah, memiliki lebih dari satu sumber penghasilan dapat terasa sebagai pilihan yang menarik.
Namun, membangun side hustle bukan sekadar mencari pekerjaan tambahan. Ada satu modal penting di baliknya: skill yang dapat ditawarkan.
Mulai dari Skill yang Bisa Dikembangkan
Skill tidak harus langsung berada di level profesional. Prosesnya bisa dimulai secara sederhana, seperti belajar melalui platform online, mengikuti short course, atau mencoba project kecil secara mandiri.
Yang penting, pengetahuan tersebut kemudian dipraktikkan. Dari sini, seseorang dapat mulai memahami kemampuan apa yang bisa terus dikembangkan dan berpotensi ditawarkan kepada orang lain.
Bangun Portofolio sebagai Bukti
Setelah memiliki skill, langkah berikutnya adalah membangun portofolio.
Tidak harus langsung berasal dari project besar. Project sederhana pun dapat menjadi awal selama mampu menunjukkan hasil nyata dari kemampuan yang dimiliki.
Portofolio membantu orang lain melihat bahwa sebuah skill bukan hanya sesuatu yang kita klaim bisa, tetapi memang sudah pernah kita praktikkan.
Skill Juga Perlu Dikomunikasikan
Kemampuan yang baik belum tentu diketahui orang lain. Karena itu, penting juga mempelajari bagaimana mengomunikasikan dan menawarkan skill tersebut.
Mulai dari membangun personal branding di media sosial hingga mengemas jasa dengan lebih jelas, sehingga orang lain dapat memahami apa yang kita tawarkan dan melihat bukti dari kemampuan tersebut.
Pada akhirnya, side hustle bukan hanya tentang memiliki sumber pendapatan tambahan. Di baliknya ada proses belajar, mengasah skill, membangun portofolio, dan menunjukkan value yang kita miliki.
Karena di era sekarang, bukan hanya skill yang penting, tetapi juga bagaimana skill tersebut terlihat dan dipercaya.
Sumber: Forbes (2026).

Comments :