Artificial Intelligence (AI) kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari membantu mencari informasi dan membuat konten hingga meningkatkan efisiensi pekerjaan, teknologi ini menawarkan banyak kemudahan.

Namun, di balik kecanggihannya, AI juga memiliki jejak lingkungan yang tidak kecil.

AI memang dapat membantu berbagai upaya pelestarian lingkungan. United Nations Environment Programme (UNEP), misalnya, mencatat pemanfaatan AI untuk mendeteksi emisi metana, memantau aktivitas lingkungan, hingga mendukung penelitian dan pengambilan keputusan.

Ironisnya, teknologi yang dapat membantu menjaga lingkungan ini juga membutuhkan infrastruktur dengan sumber daya yang besar. Pengembangan dan pengoperasian AI bergantung pada data center, perangkat keras berperforma tinggi, listrik, sistem pendinginan, serta berbagai material untuk memproduksi komponennya.

Lalu, apa saja dampaknya?

1. Konsumsi Energi dan Emisi Karbon

Menjalankan dan mengembangkan model AI membutuhkan daya komputasi yang besar. Semakin kompleks model dan semakin tinggi penggunaannya, semakin besar pula kebutuhan listrik dari infrastruktur yang menjalankannya.

Dampak karbonnya sangat bergantung pada sumber energi yang digunakan data center. Jika listrik masih banyak berasal dari bahan bakar fosil, peningkatan kebutuhan energi dapat ikut meningkatkan emisi gas rumah kaca.

2. Penggunaan Air untuk Pendinginan

Data center menghasilkan panas dalam jumlah besar sehingga membutuhkan sistem pendinginan agar server dapat terus beroperasi dengan aman.

Sebagian sistem pendinginan menggunakan air. Karena itu, pertumbuhan kebutuhan komputasi AI juga menimbulkan perhatian terhadap penggunaan air, terutama ketika fasilitas berada di wilayah yang menghadapi tekanan terhadap ketersediaan air.

Penting dicatat, jumlah air yang digunakan tidak sama untuk setiap aktivitas AI karena dipengaruhi lokasi data center, teknologi pendinginan, cuaca, sumber listrik, dan jenis komputasi yang dilakukan.

3. Limbah Elektronik dan Kebutuhan Material

Perkembangan AI juga mendorong kebutuhan terhadap server, GPU, chip, dan perangkat komputasi lainnya. Produksi perangkat tersebut membutuhkan berbagai bahan baku dan mineral, sementara perangkat yang sudah tidak digunakan pada akhirnya dapat menjadi limbah elektronik (e-waste).

Jika tidak dikelola dengan baik, limbah elektronik dapat membawa risiko pencemaran karena sejumlah komponennya mengandung material berbahaya.

Jadi, Apakah AI Buruk bagi Lingkungan?

Tidak sesederhana itu.

AI dapat menjadi alat untuk meningkatkan efisiensi, mendukung penelitian, hingga membantu mengatasi persoalan lingkungan. Namun, manfaat tersebut tidak menghilangkan fakta bahwa teknologi AI memiliki jejak energi, air, material, dan emisi yang perlu diperhitungkan.

Tantangannya bukan sekadar memilih antara menggunakan atau tidak menggunakan AI, tetapi bagaimana teknologi ini dikembangkan dan digunakan secara lebih bertanggung jawab—mulai dari data center yang lebih efisien, penggunaan energi rendah karbon, pengelolaan air, hingga perangkat keras yang lebih berkelanjutan.

Karena semakin besar peran AI dalam kehidupan kita, semakin penting pula memahami jejak yang ditinggalkannya.